Bertamasya Ke Alam Ide

Tentang Soetandyo

3286_70090073822_4781632_nSoetandyo Wignjosoebroto, dilahirkan di Madiun pada tahun 1932 dari pasangan Soekandar Wignjosoebroto (1901-1989), pegawai Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij, dan Siti Nardijah (1913-2002). Menyelesaikan pendidikan menengah di Solo, kemudian belajar Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada cabang Surabaya yang kelak menjadi FH UNAIR. Sebelum sempat menyelesaikan gelar S-1, mendapat beasiswa untuk belajar pada Government Studies and Public Administration di University of Michigan (US) dimana ia kemudian meraih gelar MPA, satu-satunya gelar akademik yang melekat padanya.

Pada 1973 berkesempatan mengikuti Socio-Legal Theories And Methods di Marga Institute, Srilanka. Soetandyo adalah pendiri sekaligus dekan pertama FISIP UNAIR, dan dikukuhkan sebagai gurubesar pada 1987. Pada 1993 dipercaya sebagai komisioner pada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM).

Buku yang pernah ditulis sosok guru yang gemar bersepeda dan bercocok tanam ini antara lain ‘Dari Hukum Kolonial ke Hukum Nasional’, ‘Desentralisasi Dalam Tata Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda’ (keduanya hasil riset di van Vollenhoven Institute, Leiden Universiteit, Nederland) , ‘Hukum: Paradigma dan Masalahnya’. Selain itu menulis berbagai artikel di jurnal ilmiah, suratkabar, maupun majalah serta menjadi pembicara dalam berbagai diskusi maupun seminar. Karir menulisnya sendiri telah dimulai dengan menulis berbagai karya sastra untuk majalah anak-anak Kunang-Kunang.

Setelah pensiun dari Pegawai Negeri Sipil pada 1997, Soetandyo yang menguasai Bahasa Inggris, Belanda dan Perancis serta Jerman ini terus aktif mengajar Teori Sosial dan Teori Hukum di Universitas Airlangga sebagai Gurubesar Emeritus. Selain itu pula mengajar di Universitas Diponegoro, Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, dan Universitas Pancasila Jakarta. Mahaguru yag dikenal karena kesederhanaan dan kerendahatiannya ini wafat di RS Elizabeth, Semarang pada 2 September 2013