Bertamasya Ke Alam Ide

Pidato Sambutan Pada Penerimaan Yap Thiam Hien Award di Jakarta, 14 Desember 2011

Soetandyo Wignjosoebroto

Hadirin yang saya muliakan,

Assalamu’alaikum wa alaikuna warahmatullah ta’ala wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk Anda sekalian, semoga kita yang hadir dalam pertemuan hari ini selalu berada dalam lindungan Allah yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih,

Pertama-tama ijinkanlah saya memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas karunianya, mengizinkan saya dalam ujung-ujung akhir kisah hidup saya masih diberikan olehNYA suatu kenikmatan, boleh berjumpa dengan kaum muda yang bersedia menggolongkan saya ke dalam golongan mereka, ialah golongan yang tak kunjung henti mengupayakan termajukannya dan terlindunginya hak-hak asasi manusia, khususnya hak-hak asasi mereka yang warga sebangsa dan setanah air yang belum beruntung. Dalam hubungan ini sayapun tak boleh lupa untuk mengucapkan beribu-ribu terimakasih kepada para sejawat, sahabat dan kerabat yang dengan pertimbangan-pertimbangannya yang tak sekali-kali saya dugakan telah membilangkan saya ke dalam golongan human right defenders dan/atau human right educators di negeri ini dan memberikan suatu tanda penghargaan kepada saya.

Tentu saja saya amat berbesar hati, dan sungguh bersyukur beroleh kehormatan dalam rupa HR Awards, nota bene suatu award dari suatu panitia yang bekerja dengan membawakan nama  Meester in de Rechten Yap Thiam Hien, seorang HR defender yang terkenal karena perjuangannya dan karena keberanian moralnya yang tinggi.  Sekalipun begitu, hingga kini dengan perasaan rendah hati saya masih saja bertanya-tanya, “mengapa saya”?  Mengapa bukan tokoh lain semisal yang sekaliber mendiang Asmara Nababan, salah seorang HR defender dan educator yang saya kenal, kepada siapa selama ini saya menaruh respek yang tinggi.  Mengapa pula bukan kepada mereka yang muda usia, semisal mendiang Sondang yang begitu tinggi harga perjuangannyawalau  tak banyak terketahui umum.  Baru beberapa hari yang lalu ia telah membiarkan dirinya menjadi obor di depan istana untuk membuka mata mereka yang selama ini buta dan membuka telinga mereka yang selama ini pekak.

Kepada penjuang-pejuang kemanusiaan yang belia seperti itulah penghargaan-penghargaan seamestinya didedikasikan.  Mereka adalah anak-anak muda masa kini yang banyak di antaranya boleh dipujikan sebagai insan-insan yang mempunyai visi yang lebih tajam dan imajinasi yang lebih jernih tentang manusia masa depan berikut hak-haknya. Tanpa lelah hak-hak manusia masa depan harus kian diupayakan tegaknya demi kehidupan bangsa dan rakyat yang lebih sejahtera di masa depan, suatu masa depan tatkala  jutaan manusia tak lagi cuma mesti eksis dalam lingkup kehidupan nasional, dengan hak-hak yang dijamin sebagai hak-hak konstitusional.  Itulah masa depan tatkala manusia sebumi tanpa dielakkan akan menemukan dirinya hadir dalam suatu lingkupan yang berufuk global, dengan jaminan hak-hak yang demikian pasti akan lebih bersifat universal.

Hadirin yang saya muliakan,

Kita kini ini, disadari atau tidak, tengah berada di suatu masa yang penuh perubahan dan pergolakan dan tentu saja terasakan sebagai kegalauan pada tataran kehidupan baik yang berada pada tataran kolektif maupun pada tataran yang individual..  Peradaban manusia belumlah tiba pada garis akhirnya yang final.  Manakala pada awal abad 20 yang lalu sejarah menyaksikan perubahan besar di negeri ini, sebagaimana yang pernah dilukiskan Clifford Geertz sebagai perubahan from old societies to a new nation state, kini, memasuki millennium ketiga, jutaan manusia telah menemukan dirinya berada dalam seretan arus perkembangan from nation states to a new global world, ialah suatu kehidupan yang kian beruang lingkup global yang terstruktur sebagai a one world, full of differences but never divided.  Di tengah perkembangan seperti ini, identitas manusia berikut hak-haknya yang asasi akan tak lagi cukup dinyatakan oleh deklarasi-deklarasi semacam Déclaration de Droit de l’Homme et du Citoyen (dari tahun 1789) melainkan dengan penyeruan hak-hak manusia dalam konsepnya yang lebih universal sebagaimana yang dinyatakan oleh  The Universal Declaration of Human Rights (1948).

Lebih lanjut dari sebatas pengenalan identitasnya yang eksklusif sebagai warga suatu negara – dengan sebutan citizen, citésein, citoyen atau apapun lainnya – kini, diwawas dari perspektif faktual ataupun normatif, manusia telah kian diangkat dalam konsepnya yang lebih universal sebagai penghuni bumi.  Manusia masa depan haruslah diidealkan in abstracto sebagai manusia-manusia yang secara pasti, sampai batas tertentu, berani mengabaikan perbedaan-perbedaan atributnya, tidak hanya yang rasial dan religi, dan tak pula yang berbasis kelas sosial atau yang strata ekonomi, melainkan juga yang berbasis kebangsaan.  Manusia adalah manusia, apapun juga agamanya, budaya dan adat bahasanya, jenis kelaminnya, kebangsaannya atau  kekayaannya atau pula apapun, bahkan sexual preference-mereka sekalipun. Barang siapa terlalu suka-suka menekankan perbedaan atribut-atribut pribadi yang tersenarai di muka, sesungguhnyalah dia itu mempunyai niat untuk bertindak diskriminatif dalam dirinya dan tak jarang pemikiran diskriminatif seperti itu akan manifest dalam bentuk perbuatan dan tindak kekerasan, yang fisikal ataupun yang simbolik.

Humanity! Perikemanusiaan!  Itulah martabat tertinggi dalam peradaban manusia masa depan —  dan bukan lagi nationality, lebih-lebih yang chauvenistic — yang sebenarnya harus dicoba digapai dan dicapai oleh manusia sebumi, betapapun sulitnya manakala kita perhatikan realitasnya di alam kehidupan yang nyata ini.  Kebangsaan memang masih tetap penting di awal abad ini, namun kebangsaan adalah satu tahap persinggahan saja dalam sejarah peradaban manusia sebumi.  Banyak orang, khususnya di kalangan generasi muda, yang dalam tindakan dan pikirannya kini telah merefleksikan kearifan ini, seolah hendak merealisasi apa yang pernah dikatakan oleh Mahatma Gandhi — tatkala beliau harus ikut menengahi konflik antara tokoh-tokoh politik India yang mencetuskan kekerasan-kekerasan yang berujung pada perpecahan bangsa – bahwa “my nationality is my humanity”.  Itulah pula yang sebenarnya dimaksudkan oleh Soekarno muda pada tahun 1945, tatkala usia beliau belum genap berusia 45 tahun, bahwa betapapun tingginya semangat kebangsaan, namun asas ‘perikemanusiaan yang adil dan beradab’ dalam urutan sila Pancasila harus didahulukan, mendahului  asas ‘persatuan (bukan kesatuan!) Indonesia’.

Kemerdekaan adalah hak segala bangsa.  Namun adalah suatu kebenaran pula bila kita nyatakan bahwa ‘kemanusiaan adalah hak segala anak manusia penghuni bumi’.  Dan harus disadari dan diingat bahwa yang dibilangkan sebagai ‘manusia penghuni bumi’ ini bukan hanya kita yang tengah hadir sebagai anak bangsa di abad ini, melainkan juga generasi-generasi yang akan datang yang mungkin sekali lebih memerlukan kehidupan yang lebih damai berasaskan perikemanusiaan yang adil dan beradab, daripada sebatas persatuan dan kesatuan bangsa yang amat eksklusif dan diskriminatif.  Wallahu a’lam bishawab,  Allah itulah yang Maha Tahu akan kebenarannya.  Allah Maha Tahu, Allah yang juga Al-Alim. Semoga Al-Alim tetap memberikan petunjuk-petunjuknya kepada kita sekalian dalam upaya kita sebagai pekerja-pekerja kemanusiaan yang ikut menyumbangkan upaya demi terwujudnya masa depan  yang lebih berperikemanusiaan.  Semoga Allah yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih selalu melimpahkan rakhmat dan hidayahnya kepada kita sekalian. Amien ya Rabb’ulalamien.

Hadirin sekalian yang saya muliakan, terimakasih [***]

Comments are closed.