Bertamasya Ke Alam Ide

Prof Tjip Dan Ajaran Hukum Progresifnya: Sebuah Pengantar Ringkas

NOTE: Ini adalah sebuah catatan ringkas yang dimaksudkan sebagai pengantar buku bunga rampai Sosiologi Hukum dalam rangka tribute untuk Prof. Satjipto Rahardjo, Gurubesar FH UNDIP .

Soetandyo Wignjosoebroto

Pada hari Jumat tanggal 8 Januari 2010 pagi hari, setelah dirawat sekira sebulan lamanya,. Prof. Satjipto Rahardjo wafat di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta dalam usia 79 tahun.  Innalillahi wa inna alaihi ro’jiun.  Beberapa hari sebelum masuk rumahsakit, beliau berangkat ke Jakarta, bukan untuk berobat melainkan – begitu yang saya dengar — untuk hadir dalam satu seminar.  Benar-benar Prof. Tjip ini tak kunjung surut dalam dedikasinya sebagai seorang akademikus.  Beliau selalu ingin hadir di ruang-ruang kelas dan ruang-ruang seminar, sekalipun – sebagaimana yang saya amati sepanjang bulan-bulan akhir ini — beliau tampak lemah dan kian renta saja.

Saya tak menyangka kalau tak lama sesudah tiba di Jakarta Pak Tjip harus dirawat di rumahsakit.  Sebulan lamanya beliau dirawat sebelum datang hari akhirnya untuk berpulang ke hadirat sang Khalik.  Sebenarnya, seminggu sebelum beliau berangkat ke Jakarta, saya masih sempat bertemu di ruang Sekretariat Program Doktor Ilmu Hukum (PDIH) Universitas Diponegoro.  Seperti lazimnya, kami berdua berpelukan dengan akrab, selaiknya dua sahabat yang lama tidak bertemu, untuk kemudian saling menanyakan keadaan kesehatan masing-masing.  Tak menyangka bahwa itu adalah pelukan perpisahan. Setelah itu, saya tak bertemu lagi dengan beliau. Pada siang hari itu saya mendengar, setelah minum segelas teh yang diambilkan Prof. Jusriadi, beliau pulang karena batuknya yang sulit dikontrol sehingga tak dapat melanjutkan tugasnya memberi kuliah yang sedianya dihadiri 25 mahasiswa doktoral dari Universitas Lampung.

Saya berkenalan dengan Prof Satjipto Rahardjo berikut  pemikirannya, vise versa, pada tahun 1973 sepulang saya dari Marga Institute, Colombo, Srilanka untuk mempelajari ‘the Socio-Legal Theories And Methods pada bulan-bulan peralihan tahun  1973-1974.  Pada waktu itu, Prof. Satjipto Rahardjo mengetuai Lembaga Kajian Hukum Dan Masyarakat di Universitas Diponegoro, sementara itu saya menduduki jabatan sebagai Ketua “Lembaga Hukum dan Pembangunan” di Universitas Airlangga.  Hubungan kami yang kian mempribadi berimbas pada hubungan antara dua lembaga dari kedua universitas itu.

Hampir selama dua tahun dosen pengkaji minat kajian Sosiologi Hukum (yang pada waktu itu lebih dikenal dengan sebutan ‘The Study of Law And Society‘) dari kedua lembaga tersebut di muka saling berkunjung untuk menyelenggarakan diskusi-diskusi tentang materi ‘law as it is in society’ .  Diskusi mengambil tempat ganti berganti, sesekali di Semarang dan sesekala di Surabaya.  Artikel-artikel kontemporer yang saya bawa dari training seminar di Srilanka telah menjadi bacaan bersama yang sangat berguna.  Sebagian bahkan sempat diterjemahkan dan dicetak. Dalam dan sepanjang diskusi-diskusi yang diselenggarakan itu terkesan benar kekuatan pemikiran dan semangat advokasi Prof Satjipto Rahardjo untuk mengembangkan teori-teori sosiologik untuk memahami hukum di Indonesia ini, tidak hanya secara tekstual melainkan juga secara kontekstual.

Lepas tahun 1970an, Prof Satjipto tak lagi menduduki jabatan di Lembaga Kajian Hukum dan Masyarakat Undip dan jabatan struktural lainnya.  Sementara itu kepindahan saya ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unair agak menjauhkan saya dari  kesempatan untuk mengembangkan minat studi ini bersaranakan fasilitas struktural di Universitas Airlangga.  Sekalipun saya sejak tahu8n 1974 masih tak kunjung putus diterima sebagai dosen tamu di Universitas Diponegoro, hubungan akademik kami berdua tidaklah seintensif semula.  Kami bukan lagi pemain ganda di lapangan yang sama, melainkan pemain catur yang sekalipun berada di dalam satu tim tetapi terlalu fokus pada papan kami masing-masing.  Sekalipun kami masih acapkali bertemu ketika sama-sama duduk sebagai anggota Himpunan Indonesia Untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial  (HIPIIS) dan Ikatan Sosiologi Indonesia ( ISI), dan juga sama-sama bertugas di Komnas HAM sejak tahun 1993, akan tetapi diskusi yang intens dalam suasana yang sepenuhnya akademik dan antar-kampus telah jarang dapat dilakukan.  Kami seolah berjalan dalam alur kami sendiri, dan hanya sesekali bertukar tulisan tanpa sempat saling menanggapi.

Dalam kenyataan seperti itu,  seperti tiba-tiba saja – ketika berkesempatan membaca buku-buku Prof Satjipto yang diterbitkan di sekitar tahun 2005 dan berbagai tulisan lain yang dimuat di Harian Kompas pada tahun-tahun itu – saya tersadar bahwa tulisan-tulisan Prof Satjipto tidak lagi banyak bejejak di bumi realitas sosiologik melainkan telah lebih mengangkasa ke ranah hukum yang ideal, ialah sebagai hukum yang harus lebih dikembalikan ke substansinya sebagai norma-norma moral.  Kajian tentang legal text in legal context tak lagi tertampak mengedepan di tulisan-tulisan Prof. Tjip pada dasawarsa 2000an itu.  Akan gantinya, warna romantik yang beraroma kerinduan akan masa-masa jayanya aliran hukum alam pra-positivisme (dan bukan yang pasca-positivisme) amat gampang terbaca dalam tulisan-tulisan mutakhir Prof. Tjip.  Itulah pemikiran yang oleh Prof. Tjip diproklamasikan dengan nama ‘aliran hukum progresif’, yang (menurut saya!) sebenarnya merupakan paham klasik telah lama dikubur oleh kaum legis-positivis, yang hendak kini mencoba bangkit kembali untuk ganti mengubur sang pengubur.

Apakah yang dimaksudkan dengan kata ‘hukum’ dan kata istilah ‘progresif’ di sini ini?  Dan apa pula yang dimaksudkan dengan istilah khusus ‘hukum progresif’ sebagaimana yang dipopulerkan oleh Prof Tjip untuk menyebut suatu aliran baru yang beliau coba rintiskan?  Kurang berkesempatan berkomunikasi langsung, saya mencoba mengajuk-ajuk gagasan beliau dari apa yang beliau tulis, dan yang digaungkan oleh pengikutnya yang menamakan dirinya The Tjip(t)ians.  Prof Tjip lebih banyak memperkenalkan gagasannya itu kepada mahasiswanya, daripada secara khusus kepada saya dan/atau kepada kawan seangkatan yang sudah jauh berkurang, bagaikan “sisa-sisa laskar Pajang” itu. Maka, tak ada cara lain, saya mencoba mengajuk-ajuk …..

Apa gerangan yang dimaksud Pak Tjip dengan kata ‘progresif’ dan ‘hukum progresif’ itu? Secara harfiah menurut kamus umum, kata ‘progresif’ itu mengacu ke artinyal sebagai karakter suatu variabel yang punya kecenderungan kuat untuk selalu bergerak ke depan, meninggalkan posisinya yang semula.  Diartikan demikian, kata ‘progresif’ bolehlah dilawankan dengan istilah antonim ‘regresif’, ialah kecenderungan untuk bergerak mundur ke statusnya yang dulu-dulu; atau boleh juga dilawankan dengan kata ‘konservatif’, ialah kecenderungan untuk bertahan pada statusnya yang telah ada kini ini.  Maka mengartikan ‘progresif’ sebagai lawan ‘regresif’ atau ‘konservatif’, bolehlah saya mengajuk dan memformulasi ulang apa yang dimaksud Prof Tjip dengan ‘hukum progresif’ itu, yang tak lain daripada paradigma hukum baru yang hendak menjawab permasalahan mutakhir yang tak lagi dapat diselesaikan berdasarkan paradigma lama, ialah paradigma positivisme.

Para penulis muda yang  tulisan-tulisannya terkumpul di buku yang saya antarkan ini, umumnya mengetengahkan, dengan apresiasinya yang cukup bersemangat, tentang pikiran-pikiran Prof Tjip yang mutakhir tentang hukum yang ditahbiskan dengan sebutan hukum progresif.  Agaknya kurang banyak yang sempat mengesan bahwa pada awal kariernya sebagai dosen dan gurubesar, Prof Tjip itu sebenarnya memberangkatkan awal pemikirannya yang lebih membumi sebagai sosiolog hukum.  Bukunya tentang ‘Pengantar Ilmu Hukum (PIH)’ pun demikian membuminya sampai-sampai Prof J.E. Sahetapy menyebut buku PIH Prof Tjip ini sesungguhnya een verkapte sosiologi (sosiologi yang berselubung).  Mahasiswa-mahasiswa dari tahun 1980an, dan saya pribadi yang juga sudah mengenal beliau pada tahun-tahun itu, sungguh lebih mengenal Prof Tjip sebagai pengemban pemikiran Talcott-Parsons, Stewart Macauly, dan David Trubek.

“Putar balik” pemikiran Prof Tjip ini — dari yang sosiologik dan yang sosio-yuridis pasca-positivistik untuk kembali ke yang dikatakan progresif  (sic), dengan mengundang kembali persoalan substansi moral keadilan pra-positivistik ke dalam wacana-wacana hukum – adalah refleksi pemikiran Prof Tjip yang mutakhir, pasca-sembuhnya beliau dari gangguan kesehatan yang memerlukan perawatan yang cukup serius.  Bagaimanapun juga, baik yang pra- maupun yang pasca-positivisme, keduanya memang tengah mencoba menemukan paradigma baru untuk menjawabi masalah-masalah konteporer yang kian lama kian nyata kalau tak lagi bisa menjawabi dan menyelesaikan isyu-isyu pasca-modern yang juga kian pasca-struktural. [***]

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s